Senin, 30 Juni 2014

Aku ingin mendidik hatiku..

Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmat-Mu yang Engkau karuniakan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redai dan masukkanlah daku dengan limpah rahmat-Mu dalam kumpulan hamba-hambaMu yang soleh (An-Naml: 19) 

Setiap orang pastilah tidak akan menginginkan sebuah persoalan hidup yang rumit yang dapat memporak-porandakan hatinya. Tetapi sadarilah kita ini bukan siapa-siapa. Ibaratnya kita hanya menjalani hidup ini dengan sebuah rasa percaya dan harapan lebih baik di masa depan. Hanya tahu apa yang baik yang dapat kita lakukan saat ini untuk masa depan.

Terkadang jika kita menilai diri ini sendiri, itu akan terasa sangat subyektif. Kita tidak akan pernah tahu apa yang kita butuhkan, bukan sekedar kita inginkan. Ajaklah Tuhan disetiap langkah hidup kita, karena sesungguhnya Dia lah pencipta kita yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Percayalah,setiap cobaan yang Dia hadirkan dalam hidup hanyalah sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.

Begitupun dengan aku. Terlahir sebagai seorang wanita, sungguh tidaklah mudah. Sekalipun itu tidak mudah selalu tegapkanlah langkahmu, ragamu, hatimu karena dirumahmu suami yg telah letih bekerja dan anak-anak yang lelah sehabis bermain akan berpulang. Lalu jika kamu tidak bisa menjadi lebih kuat dari mereka, siapa yg akan menjaga keluargamu? Siapa yg akan menyiapkan secangkir teh hangat untuk suamimu untuk sekedar melepas lelahnya? Siapa yang akan memandikan anakmu ketika dia pulang dengan badan yang kotor sehabis bermain?

Hanya ibu, ya. Dan ibu adalah seorang wanita. Subhanallah, aku bersyukur dilahirkan menjadi seorang wanita..

Percayalah hati, lebih dari ini bisa kita lewati. Nikmatilah lara..
-Djenar Maesa Ayu-

Minggu, 29 Juni 2014

Tentangku, tentangmu dan mereka

Sebuah persoalan hidup yang seharusnya bisa dijadikan mudah dan menyenangkan, tapi semakin berjalan semakin lambat dan menyakitkan hati..

ya, penuh kiasan sekali hidupku. Kiasan yang seakan-akan mengolok-olok dan menertawakan diri sendiri. Mungkin memang sudah terlalu jauh berjalan diluar batas dan kearifan diri.

Kamu, mereka yang dulu bersama-sama mendaki, saling menolong dan memapah untuk menemukan sebuah pemandangan kebahagiaan dalam hidup. Kini perlahan - lahan mulai meninggalkanku, mencari sendiri pemandangan kebahagiaan kalian.

Sedangkan aku, apa yang masih aku kerjakan disini? Aku masih diam ditempat dimana kalian sudah jauh berlari didepanku. Maju mundur untuk sebuah harapan masa depan yang sama sekali belum bisa aku bayangkan. Belum bisa untuk mengesampingkan segala ego dan ambisi dan menerima badan tegap kamu dan mereka untuk menemukan sebuah kebahagiaan.
Ahh, betapa naif nya aku..

Memang benar tentang sebuah kaliamat bijak yang mengatakan bahwa "kebahagianmu bukan berasal dari mereka, tetapi itu semua akan datang dari dirimu sendiri"

Dan seketika isi otak berbicara dan berkata dengan sangat lantang..
"Dan rasakan sendiri akibatnya ..hhaha"

Sabtu, 28 Juni 2014

Bukan Perkara Salah atau Benar



Bukan perkara benar atau salah. Ketika aku salah bukan berarti membuatmu benar. Karena hidup bukan sekedar mengenai salah atau benar. Kita hanya berbeda.

Jumat, 27 Juni 2014

Marhaban ya Ramadhan ..

ya Allah sebentar lagi bulan yang penuh berkah serta ampunan akan tiba. Bulan dimana nafas menjadi tasbih, tidur menjadi sebuah ibadah, doa dapat diijabah, dan pahala akan dilipat gandakan. Sungguh luar biasa nikmat yang Engkau berikan untuk hidupku selama ini ya Allah..

Beribu-ribu cobaan yang Engkau hadirkan dalam jalan hidupku, tidaklah salah jika itu memang adalah bentuk kasih sayangMu kepadaku. Engkau tidak ingin hati ini terluka, Engkau tidak ingin diri ini salah di dalam melangkah. Sampai Engkau pertemukan kembali aku dengan Bulan Ramadhan ini ya Allah.. Subhanallah, sungguh begitu mulia nya diriMu. Sehina apapun diri ini, sekotor apapun diri ini, kasih sayangMu untuk hambaMu tidak pernah hilang.

Terima kasih untuk kesempatan ini ya Allah. Maafkan segala kekurangan serta kesalahanku selama ini. Jadikan semua kejadian yang telah terjadi sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga untukku. Jagalah diri ini, perasaan ini terhadap segala sesuatu yg buruk untukku ya Allah. Jagalah dia yang selalu aku sebuat disetiap doaku. Bahagiakan dia, serta ikhlaskanlah hatiku untuk bisa belajar apa arti dari sebuah kedewasaan.

Aku bukan menyerah, hanya saja aku menyadari bahwa tidak semua bisa kumiliki.

Marhaban ya Ramadhan.. Semoga Bulan ini bisa menjadi Bulan yang penuh berkah untuk semua .. Aamin,

Beda Tipis, Antara Cinta Dan Benci

Kamu, seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Menjadi bagian dari hari-hariku. Setiap malam, sebelum kupejamkan kedua mataku, kuhabiskan waktuku untuk membaca kembali pesan-pesan singkat darimu. Tawamu, hangat pelukmu, kecupan manismu berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku merindukanmu. Kebahagianku mulai hadir ketika dulu pertama kali engkau menyapaku dan seiring berjalannya waktu perasaan cinta itu tumbuh diantara kita. Semua terasa begitu bahagia.. Dulu...

Sudah terlalu banyak harapan serta mimpi yang aku gantungkan di pundakmu. Betapa bahagianya aku ketika semua mimpi ini dapat terwujud bersamamu. Kau tahu sudah sebesar apa usaha yang aku lakukan untukmu, untuk cinta kita. Dari awal aku mengenalmu sampai aku menjadi kekasihmu, aku hanya ingin melihatmu bahagia bagaimana pun caranya. Segala pengabaianmu dulu tidak pernah membuatku untuk menyerah mencintaimu. Dulu aku hanya berharap untuk bisa selalu menjadi satu-satunya alasan yang membuatmu bisa tersenyum. Senyum yang penuh dengan keteduhan yang selalu aku rindukan disetiap hariku.

Semua telah berakhir. Ternyata kenyataan tidak seindah mimpiku. Saat itu aku sangat marah, menganggap Tuhan sangat jahat kepadaku karena telah mengambilmu dari sisiku. Air mata akan terasa sangat percuma, marah pun juga akan terasa sangat percuma, karena saat ini yang sangat dibutuhkan hanyalah sebuah kedewasaan. Kedewasaan untuk sebuah keikhlasan menerima segala takdir Tuhan yang sudah ditetapkan. Kedewasaan untuk sebuah keikhlasan menerima kepergianmu karena disana, dirumahmu, ada anak-anak serta istri yang lebih membutuhkanmu.

Seluruh kosakata dari beribu bahasa tidak akan cukup untuk mendeskripsikan perasaanku, karena perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan dengan deskripsi dan arti. Tak mudah untuk menyakinkan diriku sendiri untuk melupakanmu dan mencari penggantimu. Tapi bukankah hidup harus terus berjalan, sayang?. Pastinya kau juga tidak ingin melihatku menyiksa diri sendiri dengan selalu mengenangmu. Begitupun juga aku. Dari dulu sejak kita bertemu aku hanya ingin kau bahagia. Pergilah, jalan kita masih panjang. Aku dan kamu masih berada dalam langit yang sama, lalu untuk apa aku takut kehilanganmu. Lagipula kau masih mempunyai keluarga yang sangat mencintaimu. Kuserahkan perasaan ini kepada Tuhan. Kutitipkan ragamu kepada Tuhan. Tuhan pasti akan menjagamu jauh lebih baik dariku.

Aku hanya perlu waktu untuk menghapus perasaan cinta dan benci ini, jika memang kehadiranmu disisiku bukanlah takdir hidupku.

Kamis, 26 Juni 2014

July..two years ago

Tepatnya pada tanggal 21 Juli 2012, alhamdulillah Allah SWT masih memberikan rasa cinta di hatiku untukmu.. Orang baru dalam hidupku.. Dengan kehadiranmu dapat membuatku membiasakan diri untuk tetap berjalan tanpa melihat masa lalu ku. Melupakan segala harapan dan keinginan tentang masa lalu ku. Membuatku dapat merubah diri yang sudah sedari lama terjebak dalam kenangan - kenangan masa lalu. Jatuh cinta? ya itu yang aku rasa saat ini untukmu. Dengan segala keterbatasan ku kepadamu, aku hanya berharap kau adalah cinta terakhir untukku.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan aku jalani bersamamu. Perbedaan sifat dan karakter diantara kita tidak pernah sedikitpun membuatku menyerah untuk tetap mencintaimu. Sekalipun dimensi jarak kita yang berbeda. Apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Aku tidak bisa menatapmu dan jemari ku tidak bisa menyentuh lekukan wajahmu. Apa yang kita harapkan dari jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita? Ketika rasa rindu ini begitu besar aku rasakan, dan aku tahu kau tidak ada di samping ku. Tetapi sejauh itu kita masih mempertahankan, entah mempertahankan apa. Dalam perbedaan serta dalam dimensi jarak yang berbeda, kita saling menguatkan. Aku hanya bisa memandang fotomu dan merapal namamu disetiap doa ku. Serta mendengar suaramu dari ujung telepon. Semua nya aku lakukan seakan baik - baik saja.

Kepercayaan ku untukmu sangatlah besar. Begitu pun harapan ku padamu. Berharap kau baik - baik saja. Berharap segala ucapan yang keluar dari mulutmu adalah sebuah kebenaran. Berharap semua janji serta harapan manis darimu dapat kau tepati. Berharap cinta itu tidak pernah terbagi dan hanya untukku. Tetapi memang benar, Tuhan itu adil. Dan sedikit demi sedikit kebenaran itu terbuka.

Setelah sekian lama aku bersamamu, ternyata aku hanyalah kekasih yang selalu engkau sembunyikan dari keluarga yang selalu menunggumu dirumah. Kepercayaan yang selama ini aku berikan kepadamu hancur berkeping-keping. Hati yang selama ini menunggumu tidak bisa utuh lagi. Penantian serta harapan indah bersamamu lenyap entah kemana. Setiap kata yang terucap darimu, tidak lagi dapat menarik seluruh simpatiku untuk mempercayaimu lagi. Terima kasih atas persembunyian yang menyenangkan, terima kasih atas semua peluk hangat yang kau berikan untukku meskipun saat itu belahan jiwamu selalu setia menunggumu pulang ke rumah, meskipun belahan jiwamu selalu mengirimi pesan singkat berkali - kali yang sama sekali tidak pernah kau gubris. Hhh, rasanya ingin lari ketika mengingat semua kenangan manis bersamamu.
Seorang pria macam apa yang aku cintai sampai sesakit ini ?